Diposkan pada life

Cerita Pagi Ini

Jika ada yang menjaga jarak darimu.
Biarkanlah….
Tak perlu kau cemaskan.
Itu artinya frekuensimu berbeda dengannya.
Tak perlu dipaksakan…
Energimu terbatas jika hanya memikirkan hal itu.
….FOKUS…
Pada mereka yang membutuhkan pundakmu.
Untuk berbagi cerita dan berbagi indahnya apa yang ingin kau bagi.”

Barusan masbeb kirim quotes ini ke gw, katanya itu quotes dari atasannya buat penyemangat pagi para bawahannya. Tapi tujuan suami share quotes itu ke gw supaya gw ga sedih mikirin seseorang. Kata suami gw “Jadi jgn sedih ya sayang klo ada temen2 kamu yg berubah, brarti sdh gak satu frekuensi sama kamu“.

Masbeb tau banget kalau sampai sekarang gw masih mikirin seseorang, masih bertanya ke diri sendiri “Kenapa sikapnya berubah ke gw? Apa salah gw?” Yang bahkan saat gw coba komunikasi via whatsapp pun dibalas dingin. Iya, dingin karena dia hanya balas singkat sehingga gw bingung mau buka topik apa lagi karena tidak ada feedback diantara kami. Yang ada hanyalah pertanyaan gw dan dibalas begitu saja dengan dia.

Dulu gw pikir kami akan abadi, sampai kami menua, sampai anak-anak kami beranjak besar dan berteman baik layaknya kami saat itu. Gw pikir, gw udah cukup baik menjadi seseorang yang penting di matanya tapi seiring waktu perlahan terlupa. Semua berubah ketika gw mulai menikah. Ya memang gw tidak bisa mudah ketemuan seperti dahulu tapi setidaknya gw berusaha bertanya kabarnya, berusaha mengajak bercanda dengannya hanya saja begitu dibalas dengan kalimat singkat cenderung dingin.

Gw ga ingin menghitung apa yang sudah gw usahakan untuk dia, tapi kalau mengingat kembali entah kenapa hati gw perih. Dulu ketika gw single dan belum menikah, gw selalu berusaha ada untuk dia. Karena gw pikir cuma itu yang bisa gw usahakan untuk kehidupannya yang katanya tidak cukup menyenangkan. Saat dia menikah di Bali dan secara tiba-tiba membagikan undangan, dengan segera gw memesan tiket ke Bali untuk menghadiri pernikahannya. Gw lah satu-satunya teman dia yang hadir di saat pernikahannya. Gw pula yang ikut menemani mulai saat dirinya dirias, akad hingga saat resepsi secara sederhana pun gw juga lah yang repot mendekor pelaminannya. Saat dia hamil gw menanyakan apa yang sedang idamkan sehingga gw beberapa kali mengirimkan makanan dari Jakarta ke Bali untuknya, saat dia melahirkan, gw datang menjenguk dia dan bayinya berusaha ikut hadir di saat bahagianya, bahkan ketika dirinya curhat masalah rumah tangganya hampir setiap minggu kami bertatap muka untuk berbagi cerita dan menghibur hatinya. Karena gw berpikir gw perlu ada untuknya di kehidupan dia yang tidak menyenangkan. Orang tuanya berpisah dan saat itu dia pun akan mengulang kejadian tersebut. Hatinya patah dan gw berusaha menghibur dirinya.

Ketika dirinya memutuskan operasi tumor payudara, gw memutuskan ambil cuti kantor untuk menemani ya di rumah sakit bersama ibunya. Karena gw pikir dia butuh support sebagai sesama wanita. Saat dia terluka, gw ikut merasakan terluka bahkan mungkin ikut marah dengan orang yang melukai hatinya. Apa yang gw punya rasanya gw ingin berbagi dengannya. Karena gw ingin dia ikut bahagia.

Sekarang semuanya berubah. Seiring waktu, gw perlahan merasakan dia menjauh. Gw chat dibalas singkat, gw coba bercanda dibalas dengan dingin. Gw cerita ke Masbeb, kata masbeb mungkin dia risih liat kamu mulai bahagia. Gw coba tepis dugaan tersebut. Sampai akhirnya gw hamil, melahirkan tidak pernah lagi dirinya ikut hadir di kehidupan gw. Tak pernah dia menanyakan kabar gw, bahkan ketika gw chat beberapa hari setelah gw ulang tahun, dia berkata “kemarin ulang tahun ya? Ga usah gw ucapin ya kan udah tua“. Terdengar biasa tapi gw merasakan perih di hati saat melihat sosmednya yang sedang menampilkan ucapan ulang tahun dia ke teman kerjanya.

Akhirnya gw sadar mungkin selama 13 tahun kenal dengannya hanya gw yang menganggap dia sahabat, tapi tidak baginya terhadap gw. Selama 13 tahun kenal dengannya hanya gw yang menganggap dia saudara melebihi segalanya tapi tidak baginya. Hanya gw, begitu kata Masbeb. Mungkin cuma kamu aja yang menganggap begitu, dia tidak.

Mungkin benar kata Masbeb, kalian sudah tidak satu frekuensi, ga perlu lah sesedih itu. Ngga tau ya, rasanya sulit untuk tidak merasakan sesak ketika gw stalking sosial medianya, ketika gw melihat WAnya terakhir ke gw, ketika melihat dia likes foto teman-teman kami tapi tidak di foto gw.

Yang jelas, gw masih merasa rindu dengannya. Rindu tertawa bersamanya. Gw cuma bisa mendoakan semoga dia bahagia dengan hidupnya saat ini. Semoga kelak dia bertemu dengan jodoh terbaiknya dan bisa membahagiakan dirinya.

Semoga 😊

Penulis:

Bininya Masbeb, suka masak, dramaqueen, hobi nonton horror

2 tanggapan untuk “Cerita Pagi Ini

  1. aku jg ada kok temen yg kayak gini, sedih sih kalo dipikir2 tapi yaudah lahh namanya juga hidup people come and go easily. Fokus sama yang mau stay with us aja ya Syera πŸ™‚

    1. Iya bener dita 😊 mgkn emg lebih baik fokus sm yg stay dg kita. Walau emg benerin hati yg patah gara2 teman baik itu ga mudah. Malah aq lebih byk sharing sm tmn dunia maya kaya tmn2 blog atau WAG πŸ˜‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s