Diposkan pada life

Pulang ke Kota Yogyakarta

Selama ini saya nggak pernah mudik ke Yogyakarta. Walaupun Papa saya asli sana. Maklum tiap kali hari raya, keluarga besar malah berkumpul di Bekasi. Lagi pula yang tersisa di Yogyakarta hanyalah bude dan sepupu Papa. Frekuensi “pulang” kesana pun paling banyak setahun sekali, itu pun saya yang kesana sendirian.
Hingga pas long weekend ini, tercetus ide untuk pulang ke Yogyakarta secara dadakan.
Perjalanan ini direncanakan satu hari sebelum hari H keberangkatan. Dengan membawa mobil dan tanpa tahu jalan kesana. Soalnya kalo ke Yogya lebih banyak menggunakan kereta, dan ini adalah kali pertama saya pulang dengan mobil.
Sepulang ngantor buru-buru packing dan tepat jam 10 malam kami berangkat ke Yogyakarta. Yuhuuuu, liburan dimulai. Kami memilih menggunakan jalur selatan dengan perkiraan macet masih bisa kami hadapi. Dari Bekasi kami langsung masuk tol ke arah Cipularang untuk kemudian keluar di Cileunyi terus ke Rancaekek hingga menuju Garut lanjut Tasikmalaya, kemudian Banjar hingga lanjut ke wilayah Jawa Tengah seperti Cilacap, Purworejo lalu Magelang dan berakhir di Sleman-Yogyakarta. Dan itu semua hanya mengandalkan GPS seperti Waze.
Selama perjalanan malam beberapa kali saya jatuh tertidur namun terbangun juga karena khawatir dengan kondisi jalanan diluar. Singgah pun sekedar beli minuman dingin yang ujung-ujungnnya nggak keminum hahaha, sampe di menumpuk di mobil air minum teh atau mineral dalam kemasan beberapa botol. Karena kelupaan diminum, ditaruh di mobil eh besoknya pas jalan-jalan beli lagi yang baru.
Berhubung rumah bude saya di sleman, maka petunjuk GPS saya arahkan ke RSUD Sleman karena letaknya persis di belakang sana. Dalam perjalanan menuju sana ketika pagi menjelang, saya disuguhi pemandangan alam yang sangat cantik. Matahari terbit dan sawah serta kabut berselimut tipis di sekitar Banjar dan Majenang

image
Cantik tanpa Edit

image

Kemudian pemandangan kebun karet di sekitaran Cilacap.

image

Kembali lagi bertemu dengan sawah bersanding bukit tipis di sekitar Cilacap dan Banyumas.

image

image

Perjalanan panjang kami menuju Yogyakarta berakhir sekitar pukul empat sore. Itu pun seharusnya bisa lebih awal kalau kami nggak berhenti untuk makan, solat, atau sekedar tidur 1-2 jam di parkiran masjid. Seketika di rumah bude kami disambut dengan pemandangan asri. Huaaaa beneran damai banget. Kali kecil yang bersih persis di depan rumah, ada sawah dan kolam ikan, halaman yang asri.

image

image

image

Bahkan pakde bilang rumah ini cocok bagi orang yang mau menenangkan diri.
Badan sudah sangat pegal tapi saya tahan untuk tidak tidur. Maklum, waktu memasuki sore menjelang magrib dan orang tua bilang nggak baik tidur jam segitu. Malamnya pun sempat akhirnya kami paksakan diri keluar sekedar menikmati malam di Yogya. Mana lagi kalo bukan Malioboro. Dan udah diprediksi kalo disana muacet parah. Kami hanya sempat menikmati Sop Ayam Klaten yang enak itu dan nggak jadi mencicipi Oseng-oseng Mercon.

image

image

Nggak kuat sama macet plus udah kenyang sebelumnya.
Keesokan harinya karena hari Jumat, maka kami baru keluar jalan-jalan agak siang sekitar jam setengah dua siang menuju Prambanan. Maceeett huaa, bahkan sempat mau parkir diluar wilayah candi namun nggak jadi. Apalagi kondisi saat itu banyak bus wisata plus sedang ada event Tunas Mandiri Finance. Biaya tiket masuk Candi Prambanan sekitar 30rb untuk dewasa dan 12,5rb untuk anak-anak. Kami pun berjalan menikmati candi megah peninggalan kerajaan hindu di Jawa tersebut.
Bentuk candi masih seperti dahulu, belum berubah seperti mantan pacar kita *lho?!
Saya lupa fotoin Candi Prambanan secara utuh, yang ada foto saya bersama Candi.

image

image

image

image

Maaf ya in frame foto saya dengan candi *tampak mesra #akukudusetrong

Yah maklum jomblo, mau foto berdua sama pacar tapi nggak ada yang mau pinjemin pacarnya buat foto berdua 😒😅😅
Lagian nih mitosnya dilarang bawa pacar ke prambanan karena bisa putus. Katanya sih akibat sumpah dari Bandung Bandawasa yang sakit hati karena di PHPin sama Roro Jongrang waktu dulu.

image

       Berasa kayak model Candi.

Selepas dari candi saya sempatkan lihat oleh-oleh. Niatnya sih cuma liat tapi dong ada kendi gitu malah beli, hahaha lumayan cuma seharga 25rb untuk kendi minuman berukuran besar. Walau mikir juga sih mau ditaruh dimana yak itu kendi.
Keluar dari candi Prambanan saya sudah niatkan harus ke Abhyagiri Restaurant. Harus pokoknya karena ibarat seperti mengunjungi “kekasih” lama. Maksudnya karena kadung cinta sama restoran ini, saya sampai mempunyai agenda wajib kalo ke Yogyakarta.
Letak Abhyagiri Resto, Sumberwatu Heritage tidak jauh dari Prambanan. Sekitar 2,5 km naik ke atas menuju sebuah bukit. Begitu sampai di depan gerbang Abhyagiri Resto, ada tulisan “Maaf Restauran Full Reserved, Silakan datang kembali lagi” Yaolooooohh udah sedih aja dong. Karena pengen banget dan penuh, tapi kami coba tanyakan apakah kami tetap bisa masuk kesana. Alhamdulillah dikasih masuk dong. Yihiiii.

image

image

image

Begitu masuk restauran rasanya pengen ngacir untuk foto pemandangannya apalagi kali ini Merapi terlihat walau tertutup sedikit mendung, hanya saja perut juga lapar jadi kami mencoba minta dicarikan meja. Lagi-lagi sempat shocked karena kata waitersnya semua meja reserved. Aduuhhh, dan seperti biasa dengan jurus memohon sambil melas “Mba, tolong carikan meja ya. Kami kesini karena mau makan mba, bukan cuma foto-foto hehe”. Iya loh, banyak yang kesana sekedar foto-foto huahaha.

image

Akhirnya pelayan mencoba mencarikan meja untuk kami. Alhamdulillah beruntung, ada meja kosong yang memang barusan selesai dipakai makan. Langsung pilih menu dan sambil menunggu saya ngacir buat foto-foto. Hahahaa.

image

image

image

image

Eniwei untuk harga dengan service mereka yang bagus menurut saya ” layak” apalagi dengan suguhan pemandangan yang indah di sekitarnya.

image

             Pricelist 6 Mei 2016

image

     Merapi dan Candi Prambanan

image

Abhyagiri Restaurant selalu bikin saya memujanya deh. Bahkan pengalaman “nyaris” nggal dapet meja pun membuat saya bertekad lain kali kesini harus reservasi.
Oya Abhyagiri Resto menyediakan musola serta ada penginapan semacam vila di dalamnya. Untuk harga kamar kurang tahu pasti. Hanya saja teman kantor saya pernah menikah secara private party disana.
Sepulang dari Abhyagiri, kami sempatkam bertemu teman di………Mal.
Hahaha, jauh-jauh di Yogya malah ke mal. Saking dimana-mana penuh dan bikin males untuk cari parkiran.
Keesokan harinya…..
Hari sabtu emang udah niat buat hari terakhir di Yogya. Mengejar waktu kepulangan di Jakarta biar badan bisa istirahat. Jujur sejak berangkat hingga saat ini saya amat sangat kurang tidur. Mata udah berkantung dan rata-rata tidur hanya lima jam pas di Yogyakarta. Kalo dijalan? Cuma tidur dua jam terus kadang satu jam, tidurnya nyicil kayak kredit panci klenengan. Sabtu pagi saya sudah terbangun untuk solat subuh, abis itu nggak bisa tidur lagi. Jadi deh iseng main sepedaan sendirian menyusuri desa. Mau fotoin merapi tapi nggak dapet karena tertutup kabut. Tapi nggak papa lah karena pemandangan cantik di kanan-kiri jalan.

image

image

image

Selepas sepedaan baru mandi, sarapan habis itu persiapan pulang. Sungguh sebenarnya berat sekali meninggalkan rumah bude. Apalagi berada di sana membuat saya nyaman. Tapi karena mengejar hari Minggu agar bisa istirahat di rumah, jadi lah Sabtu siang kami mulai berangkat pulang. Sebelum pulang, saya sempatkan diri mampir ketemu teman lama saya di daerah Pathuk, namanya Tata. Usia kami seumuran, saya kenal Tata dari zaman Tata masih gadis sampai sekarang anaknya udah berumur empat tahun. Ajaibnya perkenalan kami diawali dari Friendster. Ada yang inget FS? Sebelum era Facebook, terlebih dahulu ada FS ini. Dan berkat sosmed inilah saya mengenal Tata serta beberapa kawan saya yang dulunya pacaran sama polisi hingga semuanya nyaris berubah status menjadi istri polisi. Tata pun udah berubah status menjadi ibu bhayangkari.
Jujur saja perkenalan kami itu akibat ada wadah Komunitas Calon Bhayangkari (KCB), semacam wadah perkenalan para pacar polisi gitu di dunia maya. Konyol yah, tapi karena KCB inilah kami jadi kenal dan bisa dekat satu sama lain walau belum pernah bertemu. Kembali ke topik Tata, saya pun belum pernah bertemu dengan dia loh. Kenal dari tahun 2008 dan beberapa kali saya main ke Yogya tapi beberapa kali nggak sempat janjian. Alhamdulillah kemarin takdirnya saya bertemu dengan Tata. Ada rasa haru campur senang sekali.
image

Dan kebetulan banget rumah Tata di sekitar Aspol Pathuk, dekat sekali dengan sentra kue Bakpia. Maka sekalian lah saya beli Bakpia disana. Dapet harga murah sekali, satu kotak isi 20 bisa saya dapatkan dengan harga 22rb rupiah.
Setelah dari rumah Tata, baru lah kami lanjutkan dengan perjalanan pulang. Start mulai sekitar jam 2an, kami memilih jalur selatan lewat Wates. Rasanya ingin sekalian mampir ke Kalibiru, tapi nggak sempat huhu. Perjalanan pulang pun sama seperti berangkat, nggak macet sama sekali. Bahkan pukul 4 pagi kendaraan kami sudah sampai di tol Cipularang ke arah Jakarta.
Selama perjalanan beberapa kali saya melihat hal unik, seperti tulisan plat kendaraan mobil “B 151 TKW” yang mana huruf Bnya di samarkan sehingga kalau dibaca menjadi “Isi TKW”. Hahaha. Ada juga melihat tulisan truk yang mirip dengan tagline ” My Trip My Adventure” tapi diganti menjadi “My Truck My Adventure”. Banyak cerita seru selama dijalanan dan sempat mengalami hal mistis di jalan dong. Hihi

Tips Mudik dengan Mobil versi Saya.
*bawa amunisi cemilan secukupnya
*bawa air putih, tisu basah, mukena (biar bisa solat di mobil).
Saya solat di mobil karena pas di jalanan karena kadang nggak ketemu musola atau masjid.
*siapkan playlist lagu di USB buat ” karaoke” biar nggak bosen. Selama di jalan biar nggak ngantuk, saya nyanyi kencang walau suara jelek parah. Pernah pas saya lagi tidur tiba-tiba terbangun pas lagu Siti Nurhaliza diputar. Judulnya Betapa Kucinta Padamu. Dan langsung nyanyi dong, padahal nyawa belum ngumpul. Huahahahaa.
*banyak berdoa, apalagi kalo pas lewat hutan. Beberapa kali lewat jalur angker, saya sampai kencangkan doa agar mobil kami “nggak meleng”.
*kalo cape ya tidur yaa. Dan inget tidur di mobil, kaca dibuka sedikit biar nggak keracunan.

Iklan

Penulis:

Miss dramaqueen

41 tanggapan untuk “Pulang ke Kota Yogyakarta

  1. wah jogja.. kayaknya seru ya baca tulisan orang-orang yang long weekend ini ke jogja.. saya aja malah nggak pulkam ke jogja, maklum tiket pesawat muahal, tiket kereta habis, mau naik bis trauma long weekend akhir taun lalu 21 jam baru sampe.. cuma bisa nyimak aja.. 😦

    1. Coba cri rekanan tmn mas, biar bisa jalan ke yogya bawa mobil. Hehe resikonya paling capek.
      Kmrin kami pake jalur selatan tp ga lwt gentong, lebih pilih tasik banjar jd ga macet sm skali. Lancar jayaa.

  2. ah kakak, setelah sekian lama aku baca post di blog ini tanpa ada foto, Akhirnya ada fotonya juga,
    Uwww cantik banget yang punya blog, ternyata orang jogja. Orang jogja memang cantik cantik ya, temen aku yang dari jogja juga gitu, cantik aneth,

    soal pulang kampung, memang yang paling asik menurut ku adalah main ke sawah, kebetulan rumah ku juga masih mengandung unsur dekat dengan alam begini.
    Kuliner juga, setiap pulang, wajib mampir kuliner kampung, ngajak keluarga.

    Sayangnya, untuk long weekend kali ini saya ga kebagian tiket. Selamat yaaa bisa loong weekend di kampung halaman.

    1. Hihi bisa aja mba 😅 abis kemarin terlalu bersemangat foto eksis sndiri smp lupa foto liputan utk blog, makanya jd banyakan foto aq. Hehehe

      Rumah dg unsur alam emg top markotob banget, bkin tenang pikiran. Ga byk lalu lalang kendaraan kayak di kota.
      Tp kmrin aq malah ga smpt ke daerah widjilan buat mkn gudeg, krn emg jln2nya santai banget makanya cm sempat ke prambanan thok. Pdhl klo mau dipaksain bs jln kemana2 cuma yg bwa mobil hanya satu org jd kecapean.

    1. Iyaa nggowes di kampung dg udara yg masih bersih itu enak bangeeet.

      Walah nti tak jawab klo pd nanya oleh2 “oleh2nya cape sm baju kotor”.
      *kebiasaan org indonesia hahaaha

  3. Kampungnya serasa familiar… setelah sekian lama, ternyata masih terjaga hijaunya. Dulu waktu abege (sekarang masih tetep abg 😀 ) sering main ke daerah situ… ndak main ke Turi mbak? musim salak pondoh kayake… 😀

    1. Nggak sempat ke Turi mas.
      Bisa jadi familiar kampungnya, soalnya desa budeku di daerah Murangan, Dusun Triharjo Sleman. Pokoknya belakang RSUD Sleman.

    1. Iya sbaiknya pake kendaraan sndiri aja, ga usah mobil. Pake motor juga bisa kok adya. Lebih murah lagi kisaran sewanya cuma 50rb utk 24 jam.
      Km klo ksni sm suami kbrin aq, nti aq ksih nomer tlp sewa kendaraan kenalanku.

  4. Foto pas sunrise kece bangeetttt. Abhayagiri bagus ya pemandangannya, banyak yang rekomen nih resto. Mudah-mudahan kesampean buat ke sono. Aku agak gagal fokus sama postingannya karena teralihkan oleh foto-foto, cantik amat sih nengggggggg hahahah.

    1. Ayoo lip ksni nti klo pas ada wktu ke yogya, ga nyesel kok soalnya viewnya merapi sm candi prambanan plus lanskap kota yogyakarta.

      Hihihi makasih oliippp…skalian foto biar laku ntar *lhaa hehe

    2. Hihi bisa aja mba 😅 abis kemarin terlalu bersemangat foto eksis sndiri smp lupa foto liputan utk blog, makanya jd banyakan foto aq. Hehehe

      Rumah dg unsur alam emg top markotob banget, bkin tenang pikiran. Ga byk lalu lalang kendaraan kayak di kota.
      Tp kmrin aq malah ga smpt ke daerah widjilan buat mkn gudeg, krn emg jln2nya santai banget makanya cm sempat ke prambanan thok. Pdhl klo mau dipaksain bs jln kemana2 cuma yg bwa mobil hanya satu org jd kecapean.

  5. Abhyagiri Restaurant viewnya cakep banget…
    perlu ngeluangin waktu nih karo melintas ke daerah Prambanan 😀
    btw, pasti sesuatu yaa masih keep contact dg temen2 yg dikenal lewat socmed, apalagi jaman FS.. hehehe 😀

    1. Jadi kok dit. Jadiii…nti nginep di rmh bude àq aja dit, paling ksna beliin bahan dapur aja buat bude. Cm enaknya ajak tmn km yg pny kendaraan dit, biar gampang kmn2. Kcuali km bs bwa motor hihi

  6. asyik banget cerita Jogja nya mbak…. pemandangannya langsung beda, adem, tenang…
    nggak kebayang juga malem-malem satu mobil saja sendirian lewatin hutan… tapi terbayar dengan pertemuan keluarga dan pemandangan-pemandangan cantik ini. ke Jogja, saya biasanya naik kereta.

    1. iyaa, asyik banget dusun di rumah budeku ini. beneran masih asri dan sawah depan rumah. kalo malam sepi ga ketulungan.
      ke yogya sebenarnya enakan naik kereta kok mba, cuma kmrin coba bawa mobil karena penasaran sm namanya “mudi” hehehe

      1. foto-fotonya bercerita mbak… wuih, ngiler pengen ke Jogja lagi… mbayangin lagi jalan di jalan dekat selokan sambil dengarin gemericik airnya…

        oh, gitu mbak… kalo nge road-trip barengan beberapa mobil juga pasti seru mbak… maksudnya serunya, nggak takut juga.. haha..

        1. Iya serunya enakan sambil konvoi mobilnya mba, apalagi klo pd bawa HT.
          Eniwei kyaknya seru kali ya klo pd kopdar blogger jakarta trs ngetrip brg ke yogya.

          Sayang kmrin main ke rmh bude ga lama dan cm smpt sepedaan di hari terakhir mba..itu jg sepedaan sndirian ga ada yg nemenin hahaha

    1. Sama2 mas Surya 🙂

      kalo mau kesana jangan lupa reservasi mas kalo mau makan, tapi kalau cuma buat foto-foto aja kayaknya nggak perlu makan sih hehehe. Tetap bisa masuk ke restaurannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s