Mamaku

Seperti Mamaku πŸ™‚

Mamaku gaul. Iya dengan bangga saya menunjukkan foto mamaku ke semua teman-temanku. Gaulnya mama sebenarnya termasuk terlambat. Mama hanya ibu rumah tangga selama ini. Urusan cari uang diserahkan ke Papa. Dulu sih bekerja sebagai guru TK, tapi sejak kedua adekku lahir mama berhenti mengajar untuk mengurus anak-anaknya.

Mamaku pintar memasak, setidaknya menurut saya dan keluarga. Kalau memasak selalu skala “hajatan” bisa memakai kuali besar, penuh bumbu dan mengakibatkan dapur seperti kapal pecah. Kadang mama memasak untuk dua hari kedepan. Dulu saat saya masih kuliah dan belum hidup terpisah dari Orang Tua, kalau makan di rumah sampe “mabok-mabok” saking makan itu pagi-siang-malam-besok pagi-besok siang-besok malam. Alasan Mama biar ga ribet aja. Sekali masak beres, tinggal dipanasin. Kalau belanja kebutuhan rumah tangga, wuiiihhh macam orang mau buka warung sayur. Semua serba satu kilo, Mama bilang biar hemat daripada beli eceran. Itu didikan kecil dari Mama. Dan ahh yaaah, Mama bilang saya harus pintar memasak. Katanya sih biar disayang suami, Mama bilang jangan sampai suami kamu kelak lebih sering ke warung nasi daripada makan di rumah. Bahkan dengan bangga si Mama bilang kalo Papa suka ajak teman-temannya makan di rumah karena Mama pintar memasak. Selain disayang suami, jadi kebanggaan keluarga.

Mamaku gaul ketika mengenal smartphone, Mama jadi mengerti cara foto-foto, cara main facebook, main BBM dan Whatsapp, Invite teman-temannya. Bahkan Mama jadi punya banyak teman ngobrol di dunia maya-nya. Mama bilang, beliau senang dengan teknologi sekarang. Jadi Mama ga kesepian lagi dirumah, Ada aja si Mama upload status konyol yang bikin saya sama adek saya geleng-geleng kepala. Kadang tepuk jidat sambil bilang “aduuhhh si Mama”. Iya itu lah Mamaku.

Mama waktu saya kecil dulu suka sekali mendongeng sebelum saya dan adek-adek tidur siang, ceritanya aneh-aneh dan ga masuk akal. Tapi lucu. Mama juga yang ajarin saya membaca, menulis, berhitung. Mungkin karena beliau seorang guru. Mama sih ga galak, tapi kalo kesal sama saya sewaktu kecil Mama ngadu ke Papa, jadinya saya dulu takut banget kalo si Mama ngambek. Ngeri dipukul Papa soalnya πŸ˜€ Makanya waktu kecil saya engga berani main tanpa izin sama Mama.

Mamaku itu cantik. Saya akui itu. Mama masih perawatan ke dokter kecantikan hingga sekarang (usia Mama 51 tahun). Kata Mama, punya wajah itu harus dirawat, harus cantik di depan pasangan. Mama akan jadi orang paling marah kalau tahu saya tidur dengan wajah masih memakai make up, sampai-sampai saya harus disuruh berkali-kali kalau masih “ngeyel” soal cuci muka. Makanya sekarang saya mengerti banget pentingnya merawat muka dari Mama. Walau engga sekeren mama, pake pergi ke dokter segala *yaialaaah si Mama kan dikasih tunjangan kecantikan sama Papa, hihihi. Wajah Mama masih kencang, seolah-olah seperti ibu-ibu yang jarang ke dapur. Padahal Mama rajin memasak loh, sering kena panas dan uap dari masakkan. Mama juga suka make up alias dandan. Bisa berjam-jam kalau ajak Mama pergi keluar, bisa berkali-kali Mama mematut diri di depan kaca kalau urusan penampilan. Nasehat super dari Mama yang masih diinget “Kalau keluar rumah itu harus rapi, cantik. Jangan pucat kayak pembantu.” Mama bilang begitu ketika Mama mengajak saya pergi ke Pasar tapi tampilan saya seadanya, tanpa pensil alis, tanpa lisptik. Si Mama nyuruh saya balik lagi masuk rumah buat “benerin muka” kalo enggak, ga bakalan jadi pergi.

Mama itu ibu yang baik. Walau suka banget cerita yang berulang-ulang kepada saya dan adik-adik, walau suka banget “narsis” sendiri yang bikin kami sekeluarga senyum kecil dan ngebatin “Iya aja deh Ma, biar cepet. Hihihi”. Tapi Mama tuh pengertian banget, enggak ribet dalam menasihati dan menjaga saya. Maksudnya Mama percaya kemana pun saya pergi, saya bisa jaga diri saya sendiri. Mama melepas saya untuk “pergi” sejak saya mulai lulus kuliah. Di masa itulah saya mengerti bahwa Mama melepas saya karena tahu anak perempuannya sudah dewasa dan Insha Allah berani bertanggung jawab atas semua perbuatan yang saya buat. Mama menjaga ketat saya ketika saya sekolah dan kuliah dulu. Bahkan urusan ikut pesta ultah temen aja tidak diizinkan, engga boleh pacaran juga, engga boleh nginep di rumah teman. Dan setelah besar saya mengerti kenapa “ini-itu Mama larang”, karena Mama sayang saya. Anak perempuannya yang harus dia jaga.

Mama itu..mencintai anak-anaknya tanpa batas. Mama suka ngambek tapi baik lagi, Mama kadang suka mellow dan saya menjadi telinga tempat Mama bercerita. Kadang saya ke kamar Mama pas istirahat siang hanya sekedar ngobrol ringan, curhat tentang hidup saya, tentang patah hati-jatuh cinta, tentang siapa yg lagi saya sukai atau saya sedang benci. Mama juga sebaliknya begitu, curhat tentang si Papa, tentang adek-adek saya yang belum wisuda, tentang teman sekolahnya, tentang kegiatannya. Mama juga kadang menyelipkan nasihat pernikahan kepada saya, menyelipkan bagaimana bersikap sebagai istri, menantu dan ipar. Mama bilang itu semua agar sebagai bekal saya kelak.

Mama itu walau kadang “cerewet” tapi itu bentuk sayang Mama, bentuk keceriaan Mama, bentuk kehidupan seorang Mama.

Semoga jika kelak Mama semakin menua, akan terus ceria ya Ma. Semoga saya diberi kesabaran lebih jika merawat Mama dan Papa di hari tua, semoga tidak ada luka di hati Mama dan Papa atas kesalahan sikap saya atau adik-adik saya. Tolong Ridhai langkah hidup kami, doakan kami. Hingga saatnya kami bersama dengan pasangan kami.

Iklan

12 thoughts on “Mamaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s