Bukan Sepasang Merpati

  
Semoga tulisan ini tidak menyakiti pihak-pihak tertentu.
Setiap kali saya buka laman facebook akhir-akhir ini, pasti deh ada satu dua topik yang mengangkat tema “utara-utara dan selatan-selatan” *you know lah what i mean. Saya termasuk pihak yang merasa sedih dengan zaman sekarang ini. Bagaimana tidak, hal yang abnormal dan dahulunya tersembunyi menjadi terbuka dan terang-terangan. Iya sih, kita yang normal juga tidak berhak menghakimi ketidaknormalan seseorang dalam berperilaku,bersikap bahkan dalam hal mencintai dirinya sendiri dengan orang lain. Hanya saja, boleh dong saya merasa sedih dan sedikit was-was akan nasib anak saya kelak *cie mikirnya jauh amet neng?! 😅

Dulu sewaktu sekolah, saya mengenal beberapa teman saya yang diluar kewajaran sikapnya. Pria tapi berperilaku kewanitaan. Saya pun ga ambil pusing dan ga mau ikut-ikutan mengatur. Palingan dengerin aja gosip dikit tentang mereka itu. Hal terekstrim yang didapat dari teman saya yang menyimpang adalah ketika dia tidak boleh ikut pelajaran pencak silat oleh guru hanya karena dia “kewanitaan”. Sedih? Iya lah, saya dengernya aja sedih karena teman saya “dihukum” seperti itu. Lulus sekolah saya malah pernah lihat penampilan dia dengan wig dan pakaian wanita. Waktu pun berlalu, saya bertemu kembali ketika saya sudah bekerja dengan melihat wujudnya sebagai pria beneran. Serasa hilang jejak kewanitaannya.

Itu teman sekolah saya.

Di lingkungan kerja, berulang kali saya bertemu dengan karyawan pria tapi kewanitaan, penampilan pria tapi suka sama pria, penampilan pria tapi fisik asli wanita. Sikap saya? Yaudah, itu kan kehidupan mereka. Beberapa di antaranya bahkan “confirm” ke saya kalo mereka itu “berbeda”. Beberapa di antaranya pun go public dengan pacar-pacar mereka. Yang selalu saya sayangkan hanya “Oh Tuhaaaaann, kenapa mesti yang ganteng dan berbadan atletis?!”. Yeeaahh, saya sedih disitunya aja. Selebihnya cuma “yaudah”. 

Ya habis saya juga ga punya hak untuk mengucilkan mereka, tapi saya merasa berkewajiban mendoakan yang terbaik untuk mereka. Iya, saya cuma punya doa agar mereka sadar. Iya, saya cuma punya doa agar ibu-bapak dan keluarganya mau berlapang dada menuntun mereka ke jalan yang benar, bukan malah menghakimi atau menghukum mereka.

Saya cuma punya doa, semoga kelak anak laki-laki saya, anak perempuan saya menjadi seseorang yang mencintai dengan benar pada lawan jenis mereka.

Saya engga mau banyak nyinyir soal mereka yang berbeda, walau saya sendiri tidak setuju dengan apa yang mereka “cintai” saat ini. Tapi saya tetap akan berdoa, semoga mereka sadar. Menyadari bahkan mereka bisa berubah jika mau “kembali” pada hakikat mereka. Bahwa kelak jodoh mereka yang semestinya ditakdirkan oleh Tuhan pun mau menerima masa lalu mereka.

Amin

Iklan

15 thoughts on “Bukan Sepasang Merpati

    1. Amiin ya rabbal alamin.
      Iya ka nisa,semoga keluarga dan keturunan kita dijauhkan dan dilindungi oleh Tuhan.
      😥 prihatin dan sedih dengan yg orang2 sebut sebagai “kebebasan”.

    1. Iya benaar bgt, klo itu menimpa keluarga dekat kita itu rasanya pasti dilema.
      Dan kebanyakan ortu mereka ga siap menerima kondisi mental anak-anaknya yang berperilaku “beda” dari kodrat yg seharusnya. 😥

  1. iya nih kemarin liat di youtube sama yang ILC itu..parah banget, malah bikin wadah dan komunitas untuk mengajak LGBT, dunia mau kiamat kayaknya neng 😦

    1. iya bener bangeeet, yg aq liat di ILC.
      sedih dan merasa “ngeri” apalagi kalo yg sekarang punya anak yg masih sekolah dan takut banget mereka terpengaruh kayak gitu 😦

  2. Amin. Semoga cepat di sadarkan. Ngeri juga ya mbak kalau lihat hubungan seperti itu di blak2an. hehe. Tapi ya itulah yang penting, nggak perlu di nyinyirin. Cukup dengan di doakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s