Hewan Peliharaan

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/558/58073721/files/2015/01/img_1222.jpg

Saya memelihara kucing baru dua tahun terakhir ini, entah pas saya masih di Makassar atau pas sudah di Jakarta. Kucing peliharaan saya yang tadinya hanya dua ekor kemudian beranak pinak menjadi sepuluh ekor 😅 over populate. Mau dijual,kok engga tega?! Dikasih ke orang?! Makin engga rela dengan alasan takut engga bisa merawat seperti keluarga kami merawat mereka.
Setengah dari kucing milik keluarga saya sudah di steril agar tidak minta kawin, ini dilakukan demi kesejahteraan mereka juga. Daripada makin banyak tapi engga terawat, iya kan?! Biaya yang dikeluarkan pun engga sedikit, pakan mereka yang ratusan ribu tiap bulan belum lagi biaya ekstra ke dokter hewan jika mereka sakit. Pernah salah satu kucing kami sakit, dibawa ke dokter dan biayanya ratusan ribu. Kalo kata tetangga saya terkesan berlebihan,kucing sakit aja pake ke dokter. Tapi kata ibu saya, itu bentuk tanggung jawab dan komitmen kami dalam merawat mereka.
Inilah sekilas tentang hewan peliharaan milik keluarga saya, bicara soal hewan peliharaan, saya jadi teringat pembicaraan saya dengan teman saya. Jadi sodaranya teman saya punya dua ekor anjing, waktu teman saya main ke rumahnya dan kebetulan lagi ada acara besar. Pagi hari teman saya masih melihat anjing sodaranya masih dua ekor, eh sorenya tinggal satu ekor. Dikemanakan sisanya? Engga taunya dimasak buat acara besar tersebut 😥 poor doggy.
Saya mendengar ceritanya ikut sedih, saya tanya kok tega sih dibunuh gitu buat dimakan? Kata teman saya soalnya anjingnya udah sakit-sakitan. Olalala..
Saya emang bukan pecinta anjing, tapi yang saya tau anjing itu adalah hewan yang sangat setia terhadap majikannya. Pikiran lebay saya langsung melayang “gimana ya perasaan anjing tersebut ketika kepalanya dipentung dengan keras oleh majikannya?” *karena katanya kalo bunuh anjing bukan disembelih melainkan dipentung. Dan “gimana ya sedihnya anjing tersebut pas mereka tahu bahwa mereka dipelihara bukan untuk disayang tapi dimakan. Huhu”.
Teman saya sendiri pun mengalaminya, anjingnya dibunuh papanya buat dimakan oleh orang lain. Jadi kasusnya anjingnya udah tua gitu, terus katanya ada orang yang mau beli anjingnya buat dimakan. Nah sama papanya ya dibunuh gitu,dipentung pake kayu. Teman saya mendengar suara pilu anjingnya ketika dipentung. Hiks
Budaya Indonesia yang masih tradisional pun ada yang mengenal memakan daging anjing, daging hewan yang sebenarnya tak lazim dimakan. Jangankan anjing, monyet,kucing dan tikus pun di suatu daerah timur indonesia dijadikan komoditi makanan sehari-hari. Kalo kata teman saya, disana engga ada kucing keliaran saking dijadiin makanan,yang ada babi keliaran. Bahkan teman saya pernah liat rombongan keluarga babi di kompleks kuburan 😅😅.
Duh, kok jadi miris ya kalo baca atau dengar cerita tentang hewan peliharaan yang dijadikan makanan. Terutama cerita tentang anjing-anjing malang tersebut.
Beda halnya dengan kambing,sapi dan kerbau yang memang masuk kategori hewan ternak.
Entahlah apa ini bentuk kerakusan manusia atau memang bentuk budaya yang susah dilepaskan?!

Iklan

One thought on “Hewan Peliharaan

  1. Uda ga bs komen deh tentang orang yg makan pet nya sendiri apalagi anjing 😦
    Mbok ya cari aja sana daging anjing yg udah dimasak di lapo2…ampun deh manusia! 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s