Diposkan pada Uncategorized

Mendidik Anak

IMG_0219.JPG

Walaupun saya belum menikah bahkan mempunyai anak, tapi boleh lah ya saya cuap-cuap pendapat saya tentang “anak”.
Semakin majunya tekhnologi saat ini, tidak dipungkiri anak kecil aja bisa memainkan gadget orang tuanya, anak kecil aja hapal dengan lagu-lagu yang sedang hits di televisi, anak kecil aja hapal banget dengan istilah yang seharusnya dia ketahui jika sudah dewasa. Saya sebagai penonton (ya karena belum punya anak) miris loh liatnya.
Teman saya cerita bahwa ponakannya usia 3 tahun sudah bisa menyetel youtube bahkan mencari lagu kesukaannya yang berjudul “lumpuhkan lah ingatanku”. Ehh buset deh anak kecil doyan bener dengerin lagu galau dewasa *tepok jidat. Atau ketika saya melihat di mall anak kecil usia 2 tahunan bakalan ngambek uring-uringan ketika tidak diberi handphone orang tuanya untuk dibuat mainan. Bahkan saya pernah kaget anak kecil disini rame-rame nyanyiin lagu “sakitnya tuh disini” pas lagi bermain. Olalalaaaa…
Ada apa dengan orang tua?! Khususnya yang di Indonesia yah. Saya ketika kecil, ga boleh banyak nonton tivi, saya hanya dikasih mainan, diajari angka dan huruf oleh ibu saya, dan disuruh tidur siang. Hanya itu. Bahkan yang saya hapal saat usia saya dibawah lima tahun ya lagu kanak-kanak plus hapalan doa pendek di alquran.
Saya jadi ngeri dan takut sekali liat perkembangan anak kecil sekarang ini. Bahkan tiap kali saya baca berita online, anak usia SD sudah berani berbuat asusila. Astagaaaa. Dan katanya mereka mencontoh hal itu dari video yang ada di handphone teman-temannya. Oh ya saya lupa, anak kelas 1 SD bahkan sekarang sudah diberi handphone canggih semacam BB.
Tapi ada juga berita yang miris tentang anak, belum lama ini beredar berita anak umur 6 tahun harus masuk rumah sakit jiwa karena jiwanya terganggu akibat orang tuanya yang terlalu banyak memberikan kegiatan kepada si anak ini. Jadi katanya anak ini dikasih les ini itu, terus saking stressnya ini anak menganggap dirinya adalah guru, pintar matematika. Sedih ya 😟
Saya emang mungkin belum cukup pengalaman dalam mengurus anak, kecuali anak kucing. Saya juga mungkin belum tau lika-liku rumah tangga itu seperti apa, jadi ibu dan istri seperti apa, yah saya belum tau. Tapi sebagai wanita dewasa *ecieee, saya cukup paham sedikit bahkan punya gambaran tersendiri jika saya berkeluarga dan mendidik anak nanti.
Mungkin ya, jika saya menjadi seorang Ibu, saya tidak akan mengenalkan anak saya pada gadget! Kayak handphone atau tab atau ipad. Saya engga mau anak saya (usia dibawah 5 tahun) kecanduan nonton youtube dan ujung-ujungnya buka tontonan yang engga jelas.
Saya akan ajari anak saya lagu-lagu untuk seusianya, seperti lagu pelangi,bintang kecil, kapiten, nenek moyangku orang pelaut, dsb. Bahkan mungkin yah, saya lebih condong memberikan buku bacaan semacam dongeng-dongeng. Karena dulu waktu saya kecil, imajinasi saya tentang dongeng yang diceritakan ibu saya sangat tinggi. Terutama cerita rakyat.
Saya juga mungkin akan ajarkan anak saya bermain di alam, seperti mengenal sawah dan bebek, atau mengajak anak saya memetik buah-buahan dan mengajari anak saya untuk sayang dengan binatang.
Ini seriusan loh, karena banyak orang tua yang lupa mengajarkan bahwa hewan itu patut disayang, bukan buat mainan. Kan ada orang tua yang hanya ketawa liat anaknya narik buntut anak kucing 😦 atau membiarkan anaknya menimpuk anjing tetangga. Saya engga mau ah, anak saya seperti itu.
Saya juga akan ajarkan anak saya kelak budi pekerti luhur, bagaimana bersikap kepada orang lain yang lebih tua atau lebih muda.
Saya tau kok, mendidik anak itu emang engga gampang, tapi sedari sekarang saya sudah punya pandangan ke depan bagaimana menjadi ibu yang baik. Saya tidak akan ajarkan anak saya untuk menjadi pemenang, tapi akan saya ajarkan bagaimana dia berkompetisi yang baik dengan kawan-kawannya.
Kenapa seperti itu? Karena ada anak teman saya yang akan menangis bahkan marah ketika dirinya kalah. Saya engga mau anak saya seperti itu, saya ingin anak saya mengenal kata ikhlas bahwa menang kalah dalam suatu kompetisi adalah hal biasa.
Ahh tampaknya topik saya berat yah, hahaha
Tapi ga papa lah saya uraikan sudut pandang saya dalam mendidik anak saya kelak.
Karena anak itu amanah dari Tuhan yang harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya.

Iklan

Penulis:

Bininya Masbeb, suka masak, dramaqueen, hobi nonton horror

4 tanggapan untuk “Mendidik Anak

  1. kita jg blm punya anak dan sudah mikirin dari sekarang apakah akan memberikan gadget ke anak2 kita nantinya. Byk orang tua yg ngasih gadget supaya anak nya bisa diem dan gak resek. And i dont want to do it to our kiddos πŸ™‚

    1. Iya bener ka, duh jgn smp anak2 kita nanti jadi anti sosial krn terlalu asyik dg gadgetnya.
      Yang bikin ngeri krn terlalu lama memandang layar terang gt kan bikin ga bagus buat matanya. Nti yg ada kecil2 pake kacamata

  2. Aku juga uda pernah ngebayangin hal ini dan aku berkesimpulan, selama tinggal di perkotaan (dan daerah) padat lainnya, anak cukup 1 deh, hahaha.. repot ngurusnya kak, banyak hal yg harus dibatasi dan/atau diwaspadai. Lain ceritanya kalau tinggal di pure desa atau kota2 kecil yg aksesnya susah, masa bodoh deh ketinggalan zaman yg penting anak saya sehat mental, jasmani, dan rohani.. Hehehe peace πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s