Baduy : Kedamaian di tengah hutan

IMG_0820.JPG
Rumah Baduy Luar (Baduy Dalam Tidak Bisa di Foto)

Saya baru saja dari Baduy. Open trip 15-16 November 2014 dan saat ini sedang menunggu KRL yang akan membawa saya pulang ke kosan.
Perjalanan saya kemarin amat sangat seru walau melelahkan.
Diawali bangun pagi mengejar KRL untuk meeting point di stasiun Tanah Abang dan dilanjutkan lagi perjalanan naik kereta ekonomi AC dengan tujuan akhir rangkasbitung-Banten.
Perjalanan kereta dari tanah abang-rangkasbitung memakan waktu sekitar 1,5-2 jam perjalanan dengan biaya tiket 15ribu/trip. Perjalanan sepanjang naik kereta kurang begitu menarik perhatian saya,engga ada pemandangan berarti kecuali rumah kampung yang biasa saya lihat di rumah nenek. Sesampainya di stasiun rangkasbitung perjalanan dilanjutkan dengan naik Elf kisarannya sama sekitar 1,5 jam dari rangkasbitung ke desa ciboleger. Desa gerbang pertama menuju kampung Baduy. Di sana kami makan siang dan solat sambil belanja bekal makanan untuk di kampung baduy dalam sana. Kebetulan saat itu sudah ada pemandu asli orang Baduy yang akan membawa kami ke Baduy dalam. Kami memulai perjalanan pukul 1 siang,aduhh makk saat panas-panasnya dan yaah biarin deh gosong dikit. Hehehe

IMG_0892.JPG

Perjalanan diawali dengan sedikit tanjakan yang saya kira “yaahh tanjakan kecil, masih cingcai laaah”. Hap hap hap, kaki kecil tapi betis gede milik saya menyusuri jalanan tanah pelan-pelan. Baru selesai tanjakan pertama nafas udah ngap-ngapan. Duh,kalo aja ada yang nawarin saya oksigen tambahan saya terima dengan senang hati. Jalan kaki lagi pelan-pelan sambil foto pemandangan dan beberapa rumah adat desa baduy luar.
Iseng-iseng saya tanya kepada salah satu pemandu kami “Kang,ini kira-kira sampai sana berapa jam?”. Dan jawabannya bikin saya kaget “Yah kira-kira 4 jam lah”.
Hapaaaahhh???? Empat jam? Jalan kaki?? Rasanya kalo masuk tipi mungkin muka saya di zoom in terus zoom out. Tapi ekspresi yang keluar aslinya cuma “hehhehe” sambil mikir ini beneran 4 jam? Waduh.
Ternyata beneran sodaraaku sekalian,bukan cuma 4 jam perjuangan jalan kaki tapi tanjakan dan turunan tajam yang bikin kaki saya lecet-lecet bahkan kram. Ya maklumlah wanita karir kayak saya mana sempat olahraga. Hohoho alhasil diganti lah sepatu dengan sendal gunung hasil pinjaman mas mas yang satu trip sama saya. Dia kasian kali yah,udah jomblo eh kaki lecet,ngetrip ga punya pacar #dih curcol.
Oke perjalanan dilanjut dan masih menemukan pemandangan atau objek kece jali punya kaya jembatan bambu atau perkampungan baduy luar yang disebelahnya ada sungai bening.

IMG_0891.JPG

IMG_0893.JPG

Penderitaan saya belum berakhir kawan, tanjakan dan turunan masih aja suka menghantui saya seperti masa lalu #acieee
Satu satunya motivasi saya untuk melanjutkan perjalanan adalah mas mas kece
Eh salah deh,motivasi saya adalah TANGGUNG! Saya udah setengah perjalanan. Mau lanjut tapi kaki sama nafas udah tinggal separuh kya lagunya Noah. Tapi ga lanjut, ga ada ojek gendong. Huhuhu
Mau balik tak ada guna juga kan.
Untuk sampai baduy dalam perlu melewati 5 perkampungan baduy luar yang letaknya berjauhan dan kudu lewatin beberapa jembatan plus melewati bukit.
Pedih deh pokoknya,pedih di kaki maksudnya. Kan kaki gue lecet gitu.
Memasuki Baduy Dalam, semua alat elektronik dimatikan dan harus. Kecuali senter. Dilarang mengambil foto. Jadi yah saya cuma bisa bilang rumah baduy dalam sama baduy luar beda tipis lebih modern baduy luar koq.
Mandinya dimana? Di mata air gitu ada pancuran sama bilik tapi jangan tanya saya kalo mau pup dimana. Sepertinya kudu menggali tanah. Hehehee
Saya sampai sana beneran jam 5 sore. Asli lelah dan pegal luar biasa tapi mesti memaksakan basuh badan yang penuh keringatan dari atas sampai bawah.
Kami menginap disana selama 1 malam. Untuk makanan dari bekal yang kami bawa untuk nanti dimasakkan oleh penduduk.
Selama disana ngapain aja? Selain makan mlm bareng ya kita tanya2 ke penduduk baduy gitu, soal kepercayaannya,tentang gimana mereka bisa mencapai kota dalam dua hari, apa aja yang dilakukan dalam keseharian mereka,termasuk tentang kenapa mereka ga boleh pakai alas kaki sama sekali.
Kalau ada masalah diantara mereka, ya diselesaikan secara adat yang berlaku. Kalau masalahnya berat biasanya akan diasingkan gitu dari baduy dalam.
Paginya kami melanjutkan perjalanan pulang tapi beda rute. Karena ingin ke jembatan akar yang legendaris ituuu. Yuhhuu
Berapa lama? 4 jam juga kakaaaa. Ihiks dan kudu lewatin tanjakan dan turunan.
Tenaga saya udah habis banget,bahkan rasanya mau request minta dikasih jalur landai aja tapi ga bisa 😭😭
Moral of story : perjalanan mendaki tidak lah seromantis seperti yang kalian lihat di film 5 Cm.
Asli ga romantis banget mendaki begini walau saya mendaki bukit kecil yang tingginya cuma 400mdl doang.
Doang aja bikin gue ngap-ngapan.
Tapi percayalah setelah itu akan ada pemandangan indah beserta pengalaman hidup.
Biar berat tetap harus dihadapi. Naik turun kehidupan toh nanti akan ada ujungnya yang berarti.
Oh iya ini foto waktu perjalanan pulang.

IMG_0900.JPG

IMG_0889.JPG

IMG_0888.JPG

Iklan

13 thoughts on “Baduy : Kedamaian di tengah hutan

  1. Kok ga diceritain kak, disana ngapain aja???
    Aku uda lama ga mendaki gunung (bukit kali ye, pendek begitu) kya gini, terakhir waktu SMA atau awal2 kuliah gitu, lupa… Seru banget ihh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s