Suami dan Keluarganya

Oke..okeeee..
Saya tau mungkin postingan kali ini rada sotoy. Karena seperti yang teman-teman tau kalau saya…ehm,belum bersuami 😅😅

Saya nulis postingan ini karena belakangan ini sempat lihat status temen fesbuk saya yang mengumbar masalah rumah tangganya di fesbuk pribadinya.
Jadi tuh temen saya ngomel2 di statusnya yang intinya dirinya merasa “kalah” dibandingkan keluarga suaminya.
Ya saya sih engga tau sejauh mana kalahnya. Cuma intinya sih sang bini ini merasa suami menangin keluarganya.
Gini..gini..sejauh mana sih seharusnya posisi suami di keluarga kecilnya dan keluarga besarnya?
Kalau di keluarga saya,ajaran emak saya. Adalah wajar kalo si suami memberikan sebagian rejekinya ke ibu bapaknya atau bantu dikit ke adek-adeknya. Kata emak saya “ya kamu kan nikahin dia udah dalam bentuk jadi “orang”. Suami km udah disekolahin,dirawat dengan baik. Wajar kalau suami memberikan sesuatu untuk keluarganya. Jadi nanti kamu harus mengerti.”
Ini wejangan emak saya soal pernikahan. Padahal mah jodoh saya belum keliatan sosoknya. Tapi ibu saya dikit2 mendidik saya agar bagaimana bersikap saat menjadi seorang istri.
Di keluarga saya,keuangan di bawah kendali Mama. Jadi papa memberikan seluruh nafkahnya untuk diatur mama dan dipertanggung jawabkan hasilnya. Papa dikasih uang bulanan buat ongkos sama jajan doang. Papa keberatan ga? Engga koq. Karena papa tau dirinya ga bisa simpan uang.
Dulu sebelum menikah,papa saya menyekolahkan ponakannya hingga jadi sarjana. Abis itu papa nikah sama mama dan otomatis keuangan beralih kendali di ibu saya. Kakanya papa sempat minta tolong anak keduanya disekolahkan,namun mama saya menolak dengan halus. Alasannya karena mereka berdua juga kan butuh. Baru nikah sist, kebutuhan banyak,isi dapur aje belum komplit. *ibaratnya begitu,emak saya sih ga mungkin bilang gitu ke iparnya. Haha
Papa saya nurut sama mama, karena ngerti bahwa mereka baru membangun biduk rumah tangga. Sempet dimusuhin?yaeyalaah..menurut ngana? Ya wajar sih bude agak kuciwa karena anak keduanya ga dikuliahin. Tapi ibu saya tabah,kuat dan ditambah papa saya serahin semuanya ke mama.
Kalau kasus ini,wajar mama menolak. Karena rumah tangga sudah masing-masing dan membiayai ponakan bukanlah kewajiban paman. Ingat “bukan kewajiban” artinya bersifat sukarela. Tidak bisa dipaksa.
Lalu kasus lain yang terjadi pada teman fesbuk saya sepertinya lebih kepada orang tua suaminya.
Pada dasarnya suami utamakan istri dan anak baru orang tua. Suami harus mencukupi kebutuhan anak dan istri baru orang tuanya.
Dan selayaknya suami harus jujur dan transparan dalam memberi nafkah termasuk jika suami ingin memberikan Rejekinya untuk orang tua maupun sodara kandungnya. Jujur adalah kunci utama dalam rumah tangga.
Lalu bagaimana sikap seorang istri? Jika dia sudah diberi kecukupan oleh suami,maka selayaknya sang istri pun memberi restu kepada suami yang ingin memberikan sebagian rejekinya. Ini dalam kasus kalau suami sudah mencukupi. Kalau belum? Balik lagi ke pernyataan sbelumnya bahwa suami harus mendahulukan istri dulu baru keluarga besarnya.
Ya intinya sih satu sama lain saling mengerti.
Jadi suami ga boleh zalim terhadap istri dan jadi istri ga boleh egois dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya.
Pengertian,kejujuran kunci kebahagiaan kan?! Jangan sampai salah satu pihak merasa tersakiti akibat ego masing2.
Misal “ihh laki gw mah kasih duit mulu ke mertua gue. Padahal mertua gue kan banyak duitnya” atau “bini gue pelit cuy,jadi gue ga berani kasih duit ke emak gue. Padahal emak gue butuh.hiks”. Duhh amit-amit jangan sampai kayak gitu.
Dalam memberi kan ada batas toleransi sejauh mana pemberian itu bisa diberikan atau prioritas mana yang mesti didahulukan.
Ihh tua banget postingan saya kali ini.
Ya cuma berbagi opini aja.
Maaf kalau sotoy karena saya belum pernah merasakan rumah tangga.
Tapi sejauh ini pandangan saya soal suami dan keluarga seperti ini. Semoga ga salah. Kalau salah benerin boleh koq.

Iklan

3 thoughts on “Suami dan Keluarganya

  1. #KeuanganDalamRumahTangga.

    Dari sekarang kalo pacar ngirim2 uang ke ortunya aku ga larang kak Syera, krn alasan yang sama. Orangnya terbuka, sih. Dia mau kirim uang ke ortuku juga ga masalah 😛 hehehe
    Intinya saling berbagi aja asal semuanya transparan, pasti bisa dijelaskan. Iya toh hehehe. Opiniku juga 🙂

    1. iya bener, asal semuanya terbuka.
      biasanya malah kalo yang ditutupin gitu malah bikin masalah.
      intinya kalo kita menikah itu, ya kita ga menikah dengan pasangan kita. tapi juga dengan keluarganya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s